Psikologi Pesan

 

 

MODUL PERKULIAHAN

 

 

 

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

 

 

PSIKOLOGI PESAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fakultas

Program Studi

Tatap Muka

Kode MK

Disusun Oleh

 

 

Ilmu Komunikasi

Public Relations

12

MK85006

Enjang Pera Irawan, S.Sos.,M.I.Kom.

 

 

 

Abstract

Kompetensi

 

 

Pokok bahasan dalam modul Psikologi Pesan: Pesan LinguistikPesan Non Verbal, dan Organisasi, Struktur, sertaImbauan Pesan

 

 

 

 

 

 

Mampu memahami dan menjelaskan proses pemahaman pesan

Pengantar

George A. Miller, profesor psikolinguistik dri Rockefeller University ia menulis, “Kini ada seperangkat perìlaku yang dapat mengendalikan pikiran dan tindakan orang lain secara perkasa. Teknik pengendalian ini lazim disebut bahasa. Teknik itu dapat mengubah pendapat dan keyakinan, dapat digunakan untuk menipu Anda, dapat membuat Anda geinbira dan sedih, dapat memasukkan gagasan-gagasan baru ke dalam kepala Anda, dapat membuat Anda menginginkan sesuatu yang tidak Anda miliki. Anda pun bahkan dapat menggunakannya untuk mengendalikan diri Anda sendiri. Dengan bahasa, yang merupakan kumpulan kata-kata, Anda dapat mengatur perilaku orang lain.Inilah kekuatan bahasa, kekuatan kata-kata, the power of words.

Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita sebut pesan paralinguistik. Tetapi manusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lain selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat; ini kita sebut pesan ekstralinguistik. Kita akan membicarakan pesan linguistik dengan menguraikan ihwal bahasa, hubungan bahasa dengan persepsi dan berpikir, makna dan teorigeneral semantic dan Korzybski yang menganalisa proses penyandian (encoding). Pesan paralinguistik dan pesan ekstralinguistik akan kita uraikan dalam satu bagian yang kita sebut saja pesan nonverbal. Selanjutnya, kita juga akan membicarakan struktur dan imbauan pesan (message structure and appeals). Ini perlu untuk membantu kita menggunakan pesan secara efektif dalam mengatur, menggerakkan, dan mengendalikan perilaku orang lain.

Pesan Linguisik

Apakah Bahasa itu?Ada dua cara untuk mendefinisikan bahasa: fungsional dan formal. Definisi fungsional melihat bahasa dan segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai “alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan” (socially shared means for expressing ideas). Kita tekankan “socially shared”, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberikan arti.

Tata bahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik. Menurut George A. Miller, untuk mampu menggunakan bahasa kita harus menguasai 1.fonologitentang bunyi-bunyi dalam bahasa, 2.sintaksiscara pembentukan kalimat, dan 3. semantic:leksikal arti kata atau gabungan kata-kata. 4. tahap keempat: kita harus memiliki pengetahuan konseptual tentang dunia tempat tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan, 5. tahap kelimakita harus mempunyai semacam sistem kepercayaan untuk menilai apa yang kita dengar.

Bagaimana kita dapat Berbahasa?

Penemuan Victor menunjukan bahwa bila Anakdipisahkan dari lingkungan manusia, maka anak tersebut tidak akan memiliki kemampuan berbicara. Sebaliknya anak yang dibesarkan pada masyarakat manusia, pada usia 4 tahun sudah dapat berdialog dalam bahasa ibunya. Bagaimana anak kita dapat menggunakan bahasa? Untuk menjawab pertanyaan ini, psikologi menyajikan dua teori: teori belajar daribehaviorisme dan teori nativisme dari Noam Chomsky.

Teori belajaranak-anak memperoleh pengetahuan bahasa melalui tiga proses: 1.Asosiasi berarti melazimkan suatu bunyi dengan objek tertentu, 2.Imitasi berarti menirukan pengucapan dan struktur kalimat yang didengarnya, 3. Peneguhan yang dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan yang dinyatakan ketika anak mengucapkan kata-kata dengan benar. Kemudian B,F. Skinner, menerapkan ketiga prinsip ini ketika ia menjelaska tiga macam respins yang terjadi pada anak-anak kecil, yang disebutnya sebagai respons mandtact, dan echotcRespons mand: ketika anak-anak mengeluarkan bunyi secara sembarangan. Respons tact: terjadi bila anak menyentuh objek, kemudian secara sembarang mengucapkan bunyi.Respons echoic: ketiak anak menirukan ucapan orang tuanya dalam hubungan dengan stimuli tertentu. Misalnya, setiap kali ibu memberikan air segar, ia mengatakan “minum”.

Namun Noam Chomsky berpendapat bahwa setiap anak mampu menggunakan suatu bahasa karena adanya pengatahuan bawaan (preexistent knowledge) yang telah dprogram secara genetic dalam otak kita. Ia menyebutkan pengetahuan ini sebagai Language Acqusitions Device (L.A.D). Dimana L.A.D ini tidak mengandung kata, arti, atau gagasan, tetapi hanyalah satu system yang memungkinkan manusia menggabungkan komponen-komponen bahasa.Walaupun bentuk luar bahasa di dunia ini (surface structure), berbeda-beda, bahasa-bahasa itu mempunyai kesamaan dalam struktur pokok yang mendasarinya, Chomsky menyebutkan linguisitik universal.“

Adanya dasar fisiologis dari kemampuan dasar berbahasa dibuktikan dengan penemuan daerah Brocadan daerah Wernicke pada otak manusiaDaerah Brocamengatur sintaksis, sehingga gangguan atau kerusakkan pada daerah ini menyebabkan orang berbicara terpatah-patah dengan susuanan kata yang tidak teratur. Kerusakan di daerah Wernickememnyebabkan orang berbicara lancer tetapi tidak mempunyai arti .

Teori perkembangan mental dari Jean Piaget memperkuat teori Chomsky dengan menunjukkan adanya struktur universal yang menimbulkan pola berpikir yang sama pada tahap-tahap tertentu dalam perkembangan mental anak-anak. Kedua psikolog ini membuktikan bahwa otak manusia bukanlah penerimapengalaman yang pasif, bukan kemampuan-kemampuan bawaan. Penelitian menyimpulkan bahwa dalam otak anak sudah terdapat prinsip-prisnip berbahasa yang bukan merupkan hasil belajar.

Dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan proses interaksi diantara proses biokimiawi, factor-faktor kematangan , strategi belajar, dan lingkungan social.Dalam hubungannya dengan komunikasi , kedua teori memberikan dasar bagi kita dalam menanamkan kemampuan menyusun pesan liguistik atau konsep-konsep baru pada komunikate

Bahasa dan Proses Berpikir

Teori principle of linguistic relatively menyatakan bahwabahasa menyebabkan kita memandang realitas social dengan cara tertentu. Teori ini dikembangkan oleh Von Humboldt, sapir, whorf, dan Cassier. Kemudian Edwar Sapir guru dari Whorf, menyatakan bahasa adalah pandu realitas social. Walaupun bahasa bisanya tidak dianggap sebagai hal sangat diminati ilmuwan social, bahasa secara kuat mengkondisikan pikiran kita tentang masalah dan proses social. Manusia tidak hanya hidup dalam dunia objektif, tidak hanya dalam dunia kegiatan social seperti biasa yang dipahaminya, tetapi ia sangat ditentukan oleh bahasa tertentu yang menjadi medium pertanyaan bagi masyarakat.

Secara singkat teori ini dapat disimplukan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa; dan karena bahasa berbeda, pandangan kita tentang dunia pun berbeda pula. Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk seperti yang telah dprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda dalam hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.

Menurut Whorf, kategori gramatikal suatu bahasa menunjukan kategori dari pemakai bahasa itu sendiri.  Seperti halnya tentang persepsi, kita melakukan persepsi dengan menggunakan kategori kognitif. Kita juga berpikir dengan memakai kategori-kategori ini. Kita memberikan arti terhadap atau kepada apa yang kita lihat, yang kita dengar, atau yang kita rasa sesuai dengan kategori-kategori yang ada dalam bahasa kita.

Hubungan bahasa dengan berpikir, dimana konsep-konsep dalam suatu bahasa cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran. Ada bahasa yang dengan mudah dapat digunakan untuk memikirkan masalah-masalah filsafat, tetapi ada juga bahasa yang sukar dipakai bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika yang sederhana.

Bahasa terbukti mempermudah proses belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan kita untuk menyandi peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa, kita mengabstraksikan pengalaman kita, dan mengkomunikasikannya kepada orang lain. Tetapi bahasa yang dirangkat dari kata-kata juga dapat menghambat proses berpikir, dimana hal ini terjadi bila ada kebingungan dalam mengartikan kata-kata.

Kata-kata dan makna

Perhatikan cerita singkat berikut.---- Suatu hari ada pertengkaran antara Sopir orang Sunda dan Kernet orang Jawa. Sopir berkata dalam bahasa Sunda, “cokot dongkrak” dan Kernet tidak mengikuti perintah Sopir. Ia tersenyum “”atos pak”. Kemudian keduanya bertengkar/salah faham. Untunglah mereka menyadari telah terjadi kesalahpahaman. “Cokot” dalam bahasa Sunda artinya “ambil”, dalam bahasa Jawa “Cokot” artinya “gigit”. Begitu pula “Atos” dalam bahasa Sunda artinya “Ambil” sedangkan dalam bahasa Jawa “Atos” artinya “Keras”. Dari sini dapat dipahami bahwa kata-kata tidak bermakna, oranglah yang memberi makna.

Makna bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

1.
Makna inferensial: makna satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Ini disebut dengan proses pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukan lambang. Contoh: Kain yang menutupi tubuh disebut baju. Contoh: Jalan disebut thariq (Arab), street (Inggris).
2.
Makna yang kedua menunjukan arti (significance) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep lain. Contoh: kata ‘Phlogiston’, kini telah ditemukan ‘Oksigen’, Phlogiton tidak berarti lagi. Kata itu menjadi tidak berarti karena penemuan-penemuan baru yang menunjukan kesalahan konsep lama.
3.
Makna yang ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang dimaksud oleh seorang yang memakai lambang. Makna ini tidak dapat dipalidasi secara empiris atau dicarikan rujukannya. Makna ini terdapat pada pikiran orang, dan hanya dimiliki oleh dirinya saja.

Pada perspektif psikologi, makna tidak terletak pada kata-kata, melainkan pada pikiran orang atau pada persepsinya sendiri. Manka perbentuk karena pengalaman individu. Jadi, karena pengalaman hidup yang berbeda, orang mempunyai makna masing-masing untuk kata-kata tertentu. Tentu bila makna itu bersipat individu, maka kitak akan terjadi komunikasi. Kita dapat berkomunikasi karna kita memiliki makna yang sama dengan orang lain.

Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif atau disebut isomorfisme. Isomorfisme terjadi bila antar komunikan berasal dari budaya yang sama, pendidikan yang sama, status sosial yang sama, ideologi yang sama, dan seterusnya. Dengan perkataan lain, setiap profesi atau budaya tertentu mengembangkan bahasanya sendiri. Yang perlu diingat adalah isomorfisme total tidak perna terjadi. Kita semua menyimpan makna perorangan, terutama kalau kita berbicara tentang makna konatif. Makna konatif merujuk asosiasi emosional yang mempengaruhi reaksi kita terhadap kata-kata. Misalnya kata-kata babu, pembantu, pramuwisma, mempunyai makna konotatif yang berbeda. Begitu pula kata kuli, buruh, pegawai, dan karyawan. Kata egaliter bermakna baik, sedangkan diktator bermakna konotatif jelek.

Teori General- Semantics

Korzybski melambangkan  asumsi dasar teori general semantics: bahasa sering kali tidak lengkap mewakilikenyataan, kata-kata hanya menangkasebagian saja   aspek kenyataan. Kemampuan bahasa sangat terbatas  untuk   mengungkapkan kenyataan, kita seringmenyalah- gunakan bahasa. Menurut Korzybski, penyakit   jiwa disebabkan karena kerancuanrnenggunaka bahasa. Jika jiwa Anda ingin sehat,gunakanlah bahasa dengan cerrnat. Marilah kita   simak   empat   nasihatnya: dua perintah dan dua larangannya sebagai berikut:

1.
Berhati-hati dengan abstraksi.

Bahasa menggunakan abstraksi. Abstraksi adalah proses memilih unsur-unsur realitas untuk membedakannya dari hal-hal yang lain. Ketika kita melakukan kategorisasi, kita menempatkan realitas dalam kategori tertentu. Untuk membuat kategori, kita harus memperhatikan hanya bagian sifat-sifat objek.

Apa yang sedang Anda pegang sekarang? Buku.Buku adalah kategori yang didasarkanpada kenyataan bahwa ini adalah kumpulan kertas yangdijilid. Jadi, buku yang Anda pegang ini satu  kategori dengan buku  induk di kantor, buku  catatan anak sekolah, buku ba-caan di perpustakaan. Anda mengabstraksikan denganmelihat bahan materialnyaTetapi, dengan melihatfungsi informasinya, Anda menyebut buku ini mediacetak. Jadi  buku ini satu kategori dengan surat-kabar, majalah , pamflet, buletin, dan sebagainya.Tentu hal ini akan menjadi keliru dan membuat anda menjadi bingung.

2.
Berhati-hati dengan Dimensi   Waktu

Bahasa itu statis, sedangkan realitas   dinamis.Ketika Anda bereaksi pada satu kata, Anda seringmenganggap makna kata itu masih sama. Sepuluh  tahun yang lalu Anda berjumpa dengan Iqbal. Sekarang Anda membicarakan dia, seakan-akan Anda membicarakan Iqbal yang lalu. Padahal Iqbal telah banyak   berubah.  

3.
Jangan Mengacaukan   Kata  dengan Rujukannya

Sebelum ini, kita telah menjelaskan bahwahubungan antara kata dengan rujukannya (objek,gagasan, situasi) bersifat tidak semena-mena. Kataitu bukan rujukan. Kata hanya mewakili rujukan, "kita hidup dalam dua macam dunia yang tidakboleh dikacaubalaukan," kata Irving j. Lee "duniakata dan dunia bukan-kata": Dunia kata hanyakumpulan lambang-lambang yang mengungkapkan reaksi kita pada realitas dan bukan realitas sendiri.Kita menyalah- gunakan bahasa bila kitamemandang seakan-akan pernyataan   kita adalahlukisan objektif dari realitas, seakan-akan kata yangdiucapkan adalah realitas itu sendiri.

Contoh: Kita menyebut, "Jeruk ini manis,""Ruangan ini panas,"   "Pembicara  membosankan," "Mobilini mewah." MenurutWendell Johnsondengan   kata-kata seperti itu kitamengasumsikan jeruk itulah yang manis, padahalsebetulnya perasaan kitalah yang menilai manis;orang lain mungkin merasakannya kecut. Bukan ruangan yang panas, tetapi kita yang merasakanpanas. Kata-kata atau pernyataan seringmerupakan proyeksi tidak sadar dari diri kitasendiri.

4.
Jangan Mengacaukan   Pengamatan denganKesimpulan

Ketika melihat fakta, kita membuat pernyataanuntuk melukiskan fakta itu. Pernyataan itu kitasebut pengamatan. Kita menarik kesimpulan itu. Kita menarik kesimpulan bila menghubungkan hal-hal yang diamati dengan sesuatu yang tidak teramati. Dalam pengamatan, kita menghubungkan lambang dengan rujukan. Dalam kesimpulan, kitamenggunakan pemikiranPengamatan dapat diuji,diverifikasi; karena menggunakan kata-kata  berabstraksi rendah. Sebaliknya, penyimpulan tidakdapat diuji secara empiris (dengan alat indra);karena itu, menggunakan kata-kata   berabstraksi  tinggi.

Kekacauan terjadi bila Anda menganggap kesimpulan Anda sebagai pengamatan. Andaberkata, "Baju Syafri sudah kehilangan warna. Sebagian rambutnya sudah memutih. Ia berbicaradalam bahasa Indonesia." Anda sedangmembuatnya pengamatan. Anda mungkin berkatalagi, "Syafri kurang begitu memperhatikanpakaiannya. Ia sudah tua. Gaya bicaranya tajamdan menyinggung perasaan." Ini bukanpengamatan. Ini kesimpulan Anda. Boleh jadi Syafribaru pulang dari tempat jauh dan tidak sempatberganti pakaian. Orang bisa beruban pada usiamuda.

 

 

Pesan Nonverbal

Tepuk tangan, pelukan, usapan, duduk, dan berdiri tegak adalah pesan nonverbal.yang menerjemahkangagasan, keinginan, atau maksud yang terkandungdalam hati kita.

Fungsi Pesan Nonverbal

Mark L. Knapp (1972:9;12) menyebut lima fungsipesan nonverbal:

1.
Repetisi-- mengulang kembali gagasan yang sudahdisajikan secara verbal. Misalnya, setelah saya menjelaskan penolakan saya, saya menggelengkankepala berkali-kali,
2.
Substitusi-- menggantikan lambang-lambang verbal.Misalnya, tanpa sepatah kata pun Anda berkata.Anda dapat menunjukkan persetujuan de- nganmengangguk-angguk,
3.
Kontradiksi-menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesanverbal. Misalnya, Anda memuji prestasi kawan Andadengan mencibirkan bibir Anda, "Hebat, kau memang hebat,"
4.
Komplemen-melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air mata Andamenunjukkan tingkat penderitaan yang tidakterungkap dengan kata-kata
5.
Aksentuasi-menegaskan pesan verbal ataumenggarisbawahinya. Misalnya, Andamengungkapkan betapa jengkelnya Anda denganmemukul mimbar.

Mengapa pesan nonverbal sangat penting:

1.
Faktor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal.  Ketika kitamengobrol atau berkomunikasi tatap muka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan nonverbal. Pada gilirannyaorang lain pun lebih banyak "membaca" pikiran kitalewat petunjuk-petunjuk nonverbal. Menurut Birdwhistell, "barangkali   tidak lebih dari 30% sampai 35% makna sosial percakapan atauinteraksi dilakukan dengan kata-kata”. Sisanyadilakukan dengan pesan nonverbal. Mehrabian, penulis The Silent Message, bahkanmemperkiraka93% dampak pesan diakibatkanoleh pesan nonverbal.
2.
Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikanlewat pesan non verbal ketimbang pesan verbal.Anda boleh menulis surat kepada pacar Anda danmengungkapkan gelora kerinduan Anda. Andaakan tertegun, Anda tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu yang begitumudah diungkapkan melalui pesan nonverbal.Bagaimana harus Anda tuliskan dalam surat Andagetaran suara, tarikan napas, kesayuan mata, dandetak jantung? Menurut Mahrabian (1967), hanya7% perasaan kasih sayang dapat dikomunikasikandengan kata-kata. Selebihnya, 38% dikomunikasikan lewat suara, dan 55%dikomunikasikan melalui ungkapan wajah (senyum,kontak mata, dan sebagaimana).
3.
Pesan nonverbal menyampaikan makna danmaksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi,dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikatorsecara sadar. Sejak Zaman Prasejarah, wanita selalu mengatakan "tidak" dengan lambang verbal, tetapi pria jarangtertipu. Mereka tahu ketika "tidak" diucapkan,seluruh anggota tubuhnya mengatakan "yah. Kecuali aktor-aktor yang terlatih, kita semua lebihjujur berkornunikasi melalui pesan nonverbal.
4.
Pesan nonverbal mempunyai fungsimetakomunikatif yang sangat   diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi.Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksuddan makna pesan. Di atas telah kita sebutkan bahwa pesan nonverbal mempunyai fungsi repetisi,substitusi, kontradiksi, komplernen, danaksentuasi. Semua ini menambah kadar-infermasi dalam penyampaian   pesan.
5.
Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien  dibandingkan dengan pesan verbal.Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien.Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi(lebih banyak lambang dari yang diperlukan),repetisi, ambiguity (kata-kata yang berarti ganda), dan abstraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untukmengungkapkan pikiran kita secara verbaldaripada secara nonverbal.
6.
Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yangpaling tepat. Sugesti disini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secaraimplisit (secara tersirat). Sugesti paling efektifdisarnpaikan melalui pesan-pesan non verbal. Leat- hers (1976) memberi contoh: Kita dapatmemuji orang secara verbal, tetapi mengecamnya secara nonverbal. Ini pun sukar dituntut   secarahukum.

Klasifikasi Pesan Nonverbal

Belum ada kesepakatan di antara para ahli komunikasi nonverbal tentang pesan nonverbal. Duncan menyebutkan enam jenis pesan nonverbal : 1. Kinesik atau gerak tubuh, 2. Paralinguistic atau suara, 3. Proksemik atau pengguna personal dan sosial, 4. Olfaksi atau penciuman, 5. Sensitifitas kulit, dan 6. Faktor artifaktual seperti pakaian dan kosmetik.

Pesan kinesik yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti terdiri dari tiga komponen utama : pesan fasial, gestural dan postural.

1.
Pesan fasial, dimana muka dapat menyampaikan makna tertentu seperti: kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad.
2.
Pesan gestural menunjukan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna. Pesan gestural kita gunakan untuk mengungkapkan: 1. Mendorong atau membatasi, 2. Menyesuaikan atau mempertentangkan, 3. Resposif atau tak responsive, 4. Perasaan positif atau negative, 5. Memperhatikan atau tak memperhatikan, 6. Melancarkan atau tidak reseptif, 7. Menyetujui atau menolak..
3.
Pesan postural berkenaan dengan seluruh anggota badan. Mehrabian menyebutkan tiga makna yang dapat di sampaikan postur: immediacy: ungkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadfap individu lain. Postur yang condong kea arah yang di ajak bicara menunjukan kesukaan dan penilaian positif,Power: mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator, Responsiveness: bila ia bereaksi secara emosional pada lingkungan, secara positif dan negatif. Bila postur Anda tidak berubah, Anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.

Pesan proksemik di sampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan deakraban dengan orang lain.

 

Table Proksemik atau pengaturan jarak

Jarak

Contoh-contoh

Akrab

Fase dekat 0-6”

Pecinta yang berpelukan, berisik, lembut (itu pun jika ada yang diucapkan)

Fase jauh 6”-18”

Ibu anak yang melihat buku bersania : sahabat dekat yang membicarakan rahasia yang berbisik terdengar

Personal

Fase dekat 18”-30”

Suami istri yang merencanakan pesta; orang tua anak ketika mengobrol, suara lembut, ketika dirumah ; suara penuh diluar rumah

Fase jauh 30”-45”

Pembicaraan tentang hal-hal yang melibatkan kepentingan personal, obrolan sambil menghirup kopi.

Sosial

Fase dekat 45”-75”

Diskusi bisnis yang impersonal : obrolan dengan teman sekerja : percakapan dalam suatu perjumpaaan sambil lalu

Fase jauh 75”-12”

Diskusi bisnis yang formal : jarak yang kita atur kalu kita ingin sendirian, misalnya membaca, ketika berbicara pada jarak ini suara lebih keras dari suara fase dekat

Publik

Fase dekat 12”-25”

Suara keras dengan volume tidak penuh, orang yang berbicara di depan kelompok kecil

Fase jauh 25”-atau lebih

Pidato, komunikasi interpersonal barangkali tidak mungkin : jarak minimum antara public dengan tokoh.

 

Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan-tubuh, pakaian dan kosmetik. Selain itu, pakaian digunakan untuk menyampaikan perasaan, status dan peranan, dan informalitas. Kosmetik dapat mengungkapkan kesehatan, sikap yang ekspresif, dan komunikatifdan kehangatan.

Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal.Satu verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan dengan cara yang berbeda.Paralinguistik terdiri atas nada, kualitas suara, volume, kecepatan, dan ritme.

Contoh: Ayah Sidin mengambil rantai anjing.Berhentilah pada Ayah dan mengucapkan dengan nada memanggil: Ayah I Sidin mengambil rantai anjing. Sekarang anda berhenti pada kata Sidin: Ayah Sidin I mengambil rantai anjing. Atau anda berhenti pada kata rantai: Ayah Ayah Sidin mengambil rantai I anjing. Cara mengucapkan yang berbeda memberikan arti yang sangat berlainan.

Volume suara menunjukan tinggi rendahnya suara. Bila kita marah atau menegaskan sesuatu, kita cenderung menaikan suara kita. Bila kita ingin mengungkapkan rasa sayang atau pengertian, kita cenderung merendahkan volume suara. Pesan paralinguistik adalah alat yang paling cermat untuk menyampaikan perasaan kita kepada orang lain.

Pesan sentuhan dan bau-bauan termasuk pesan nonverbal nonvisual dan nonvokal. Sementara itu penciuman, adalah “the most experienced of sense”. Penglihatan tidak berfungsi ketika tidak ada cahaya. Telinga boleh mendengarkan, tetapi tidak mendengar. Indra perasa seringkali tidak bekerja. Namun, indra pencium bekerja setiap saat. Alat penerimaan sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan berbagai emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan.

Organisasi, Struktur dan Imbauan Pesan

Ariestoteles menerangkan peranan taxis (pembagian atau rangkaian penyusunan pesandalam memperkuat efek pesan persuasif. Ia menyarankan agar setiap pembicaraan disusun menurut aturan: pengantar, pernyataan, argument dan kesimpulan. Para peneliti sepakat bahwa penyajian pesan tersusun lebih efektif dari pada penyajian pesan yang tidak tersusun.

Retorica mengenal enam macam organisasi pesan, antara lain yaitu:

1.
Deduktif di mulai dengan menyatakan dulu gagasan utama, kemudian menjelaskannya dengan keterangan penunjang, penyimpulan, dan bukti.
2.
Induktif kita mengemukakan perincian dan kemudian menarik kesimpulan.
3.
Kronoligis, pesan disusun berdasarkan waktu terjadinya peristiwa
4.
Urutan logis, pesan di susun berdasarkan sebab keakibat atau akibat kesebab
5.
Uruitan special, pesan disusun berdasarkan tempat
6.
urutan tropical, pesan disusun berdasarkan topic pembicara: klasifikasinya, dari yang penting kepada yang kurang penting, dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang dikenal kepada yang asing.

Table SISTEM PENYUSUNAN PESAN

 

Holingsworth

Ross

Hovland

Miller & Dollard

Monroe

Introduction

Attention

(perhatian)

Attention(perhatian)

Attention

(perhatian)

Drive(menggerakan)

 

Attention

(perhatian)

Body

Interest (minat)

Impression(kesan)

Conviction

(pendirian)

Need(kebutuhan)

Plan (rencana)

Objection

(tak berkeberatan)

Comprehension(pemahaman)

Stimulus(rangsangan)

Response(respon)

Need

(kebutuhan)

Satisfaction(pemuasan)

Visualization

(visualisasi)

Conclusion

Direction(petunjuk)

Reinforcement(penguatan)

Action(tindakan)

Acceptance(dukungan)

Reward (ganjaran)

Action

(tindakan)

Dikutip dari Raymond S. ross (1974: 185)

Jadi, bila anda ingin mempengaruhi orang lain, rebutlah lebih dahulu pengertiannya, selanjutnya bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan itu, gambarkan dalam pikirannya keuntungan dan kerugian apa yang akan diperolehnya bila ia menetapkan atau tidak menetapkan gagasan anda, dan akhirnya doronglah iya untuk bertindak.

Struktut Pesan

Struktur pesan berbicara mengenai bagian pesan mana yang penting, bagian pesan mana yang harus didahulukan, atau bagian pesan mana yang kurang penting. Untuk itu Cohen menyebutkan perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.
Bila pembicara membicarakan dua sisi persoalan yang (pro dan kontra), tidak ada keuntungan untuk berbicara yang pertama, karna berbagai kondisi (waktu, khalayak, tempat dan sebagainya) akan menentukan pembicara yang paling berpengaruh
2.
Bila pendengar secara terbuka memihak satu sisi argument, sisi yang lain tidak mungkin mengubah posisi mereka. Sikap nonkompromistis ini mungkin timbul karena kebutuhan untuk mempertahankan harga diri. Mengubah posisi akan membuat orang kelihatan tidak konsisten, mudah dipengaruhi dan bahkan tidak jujur.
3.
Jika pembicara menyajikan dua sisi persoalan, kita bisa mudah dipengaruhi oleh sisi yang disajikan lebih dahulu.
4.
Perubahan sikap lebih sering terjadi jika gagasan yang di hendaki atau diterima disajikan sebelum gagasan yang kurang di hendaki. Jika pada awal penyajian gagasan yang menyenangkan kita, kita cenderung akan memperhatikan dan menerima pesan-pesan berikutnya.
5.
Urutan pro kontra lebih efektif daripada urutan kontra pro bila digunakan oleh sumber yang memiliki otoritas dan dihormati oleh khalayak
6.
Argument yang terakhir didengar akan lebih efektifbila ada jangka waktu cukup lama di antara dua pesan, dan penguji segera terjadi setelah pesan kedua

Himbauan Pesan (message appeales)

Bila pesan kita bermaksud untuk mempengaruhi orang lain maka kita harus menyentuh motif atau mendorong yang menggerakan perilaku komunikate. Para peneliti psikologi komunikasi telah meneliti efektivitas imbauan pesan, apakah komunikate lebih terpengaruh oleh imbauan emosional atau imbauan rasional.

Imbauan rasional didasarkan pada anggapan bahwa manusia pada dasarnya mahluk yang rasional. Imbauan rasional biasanya menggunakan silogisme, yakni rangkaian pengambilan kesimpulan melewati premis mayor dan premis minor. Imbauan emosionalmenggunakan pernyataan-pernyataan atau bahasa yang menyentuh emosi komunikate. Sudah lama diduga bahwa kebanyakan tindakan manusia lebih didasarkan pada emosi daripada hasil pemikiran. Harmann pada tahun 1936 meneliti pengaruh sebaran emosional dan rasional dalam mempengaruhi perilaku politik dalam pemilihan umum. Ia menemukan bahwa pesan yang menggunakan imbauan emosional lebih berhasil daripada pesan-pesan rasional.

Daftar Pustaka

 

Rakhmat, Jalaludin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

13

Psikologi Komunikasi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning

 

 

Enjang Pera Irawan, S.Sos.,M.I.Kom

http://www.mercubuana.ac.id

 

Komentar